BUYA HAMKA VOL.2

 

Source: Google Images

Dengan judul "Buya Hamka dan Siti Raham Vol. 2" Singkat nya, mengisahkan perjuangan Buya Hamka bersamai istri tercintanya siti Raham, pasca proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Kala itu terjadi ancaman agresi militer kedua dari Belanda. Saat dikayuh perahu untuk menyebrang meninggalkan pajang pandang dirinya tertembak karena berusaha meleraikan perseteruan antar saudara. Alhamdulillah nya beliau selamat biarpun sempat tak sadarkan diri selama 3 hari. Sebelum itu, saat helikopter taktis Belanda tengah berada di atas kepala. Rombongan yang membersamai Hamka merasakan ketakutan yang luar biasa.

Kau tau readers apa yang di katakan Hamka saat itu? Beliau berkata: "Saya  juga takut. Tapi hanya lah orang takut yang bisa berani. Hasbunallah wani'mal wakill" (Beeh dalem banget). Dari sini aku sadar bahwa rasa takut itu adalah kelemahan yang bisa menjadi kelebihan di atas jaminan DZAT yang maha kuasa dan pengatur segalanya.

Dilanjut nya lagi, sembari tersenyum nan lantang "Bersiaplah!!!, boleh jadi Allah izin kan kita untuk syahid di sini" (Aku tersindir, terjungkal) Barangkali bila saja aku yang ada di posisi itu, karena di gerogoti rasa takut, pasti yang ada di otak hanya persoalan: Bagaimana caranya kabur dengan selamat!! (Hua Hua, agak sedih melihat mindset yang masih dangkal gini) tapi yodahlah mari kita ambil hikmah dari sepenggal kalimat yang disampaikan beliau ini, untuk berbenah kedepannya, membenahi mindset bahwa pilihan kita haruslah di cukupkan pada 2 saja, yaitu: "Isy kariman au mut syahidan"/Hidup mulia atau mati syahid (Monggo pilih).

1950 Hamka sekeluarga pindah ke Jakarta. Beliau sangat berprinsip "Sendi bangsa adalah budi, runtuh budi runtuhlah bangsa". Sehingga tak segan mengingatkan sahabat nya Soekarno yang tengah ada di senayan. Di kritiknya kebijakan-kebijakan sahabat nya itu dengan tulisan penanya "Dalam politik Kadang kawan bisa jadi lawan dan itu hal biasa". Majalah PEDOMAN ABADI DAN INDONESIA RAYA DI LARANG TERBIT

Hal dilematis di alami Hamka. Sehingga saat itu membutuhkan siti Raham untuk menyampaikan sudut pandang nya. Bukan hanya satu kali ini, namun sudah berkali-kali. Setiap besar kecilnya suatu keputusan, senantiasa ada cara pandang siti Raham di sana (Ah! Teduh nan elok sekali cara pandang siti Raham ini Readers)

Kala itu Hamka diambang kebingungan antara tetap menjadi  Aparatur sipil atau melepaskan jabatan nya. Dijelaskan pada putra putri nya bahwa jika ia lepas jabatan itu, maka tak akan ada lagi sekian rupiah, jaminan beras, atau tunjangan-tunjangan lainnya. Namun, di sela penyampaian siti Raham dengan tegas yang penuh kelembutan menyangga: Bahwa hidup susah bukan masalah besar baginya, asalkan jati diri Hamka tak pudar apalagi menghilang. "Tenang engku aji, kami sudah terbiasa hidup susah" Ujarnya. (Sangat jauuhhhh dengan diri ini yg sabarnya setipis tisu). Tapi yodahlah mari sama-sama belajar dari kebijaksanaan, kesabaran dan ketabahan siti Raham. "Jiko hidup kita berkecukupan, Tapi batin Angku tetap miskin. Angku indak akan pernah kayo berkadudian sabagai pagawai nagari. Jadi Hamka sajo lah Angku (Jadi Hamka sajalah!!!). Siti Raham menegaskan,

Tiba suatu masa, beliau dituduh terlibat pemberontakan melawan Soekarno.  Ia lantas ditangkap dan ditahan dalam penjara kurang lebih 2 tahun lamanya. Tidak bisa kita mengatur perasaan orang lain kepada kita. "Jangan sampai emosi mengalahkan kecerdasan". Aku terpana saat scene Hamka berkata kurang lebih seperti ini: "Kalo saya terhukum karena teraniyaya saya terima. Tapi klo saya terhukum karena melanggar undang-undang negara saya tidak terima karena itu bukan cita cita saya" (Betapa Nasionalis kan)

BUYA Hamka "Pemaaf". Ketika Hamka hendak menyalati Bung Karno yang telah wafat karena mendapatkan wasiat bahwa Bung Karno ingin disholati oleh Hamka. Dia teringat kenangan suka dukanya bersama Bung Karno yang sudah  dianggapnya suadara sendiri, hingga akhirnya dia dipenjarakan karena tulisannya yang menyinggung gaya berpolitik Bung Karno. Namun Hamka tidak dendam atas apa yang dilakukan Bung Karno padanya, dia sudah mengikhlaskan semuanya. (Aku yang sabar nya setipis tisu dan gampang kesel merasa tertampar terjungkal)

Dan dibalik jeruji besi ini lah, lahir karya fenomenal beliau Tafsir Al-Azhar. Sebelum itu, siti Raham kerap menagih Tafsir Al-Azhar untuk diselesaikan "Kapan akan di selesaikan angku??, agar bisa menjadi sarana dakwah dari generasi ke generasi "Allah berikan kemampuan angku menulis semoga bukan karena Sorkarno angku jadi patah" Ujarnya.

Luar biasa ikhwal dibalik karya Tafsir ini. Jangan sangka selama di penjara HAMKA baik-baik saja. Penyiksaan, tuduhan dan fitnah yang kejam berhasil menjadikan beliau ada pada titik terendah dalam hidup sampai pada " Suicidal thought". Di rongohnya "Cutter" Dan diarahkan pada pergelangan tangan untuk memutus nadi "Tak sanggup, tidak tahan lagi ya Allah, maafkanlah hamba ya Allah" . Namun "QadarAllah" Seketika terlintas wajah siti Raham dengan nasehat nya yang menyentuh tepat di ujung, kurang lebih seperti ini "Jadikan lah berjuang tiap hari nya dalam rangka menegakkan kalimat tauhid"~ "Pandai pandailah bercermin kalo pandai bercermin maka selamat lah dunia akhirat" (Maka bayangkan readers, kalo saja waktu itu HAMKA benar-benar bunuh diri, sudah pasti beda cerita hari ini). Betapa sosok Hamka bukan hanya memikirkan tentang bagaimana dia berdakwah di atas mimbar, tapi juga tentang bagaimana dia memperjuangkan bumi Pertiwi.

Beliau prof Hamka ini ulama, filusuf, sastrawan, politikus. Aku terpana saat scene ini "Tulis apa yg engkau lihat, yg engkau alami, yg engkau rasakan baru sempurna kan dengan bacaan". Jelas sekali bahwa kita di anjurkan untuk banyak membaca sebagai modal menulis, dan menulis dengan hati. Persis seperti yang disampaikan oleh ust oemar mita " Apa-apa yang ditulis atau di sampaikan dengan hati, akan menembus hati" (Coba acung tangan, adakah disini yang tidak terhipnotis oleh karya karya beliau?) Lakukan lah apapun dengan cinta, menulis lah juga dengan cinta "Isi hati adik dengan cinta, dengan demikian kita akan berbalas balasan cinta dengan sang pemilik cinta" (Allahu akbar)

2 tahun kemudian, surat pembebasan HAMKA di berikan. Disambut hangat masyarakat kehadiran waliyullah ini saat keluar dari lapas. Kemudian, dimintanya untuk berpidato, pun siti Raham. Aku suka scene saat siti Raham naik mimbar .  "Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya bapak-bapak ibu-bu harap maklum karena saya tak pandai berpidato.  Saya bukan tukang pidato seperti buya Hamka.  Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato dari sejak memasakkan makanan, menjaga kesehatan nya, dan InsyaAllah menjaga kehormatan nya" Begitulah pidato singkat siti Raham saat diminta berpidato pada kunjungan buya Hamka di makassar. Tak disangka ucapan wanita bersahaja itu disambut "Hidup ummii !! Hidup Ummii" Pekik massa. (Auto langsung berucap dalam hati "Allahummaj'alni Minha"/Duh Allah jadikan aku seperti nya)

Betapa besar pengorbanan siti Raham pada masa-masa perjuangan. Siti Raham adalah garansi ketawadhuaan dibalik nama besar Buya Hamka. Teringat dengan Scene di HAMKA VOL.1 ketika siti Raham menjual kain miliknya dan melarang Hamka menjual kainnya, sembari berkata "Kain angku haji jangan di jual, biar kain saya saja.  Karena angku haji sering keluar rumah berdakwah.  Diluar jangan sampai Angku haji kelihatan sebagai orang miskin" Ujarnya.

Jauh sebelum itu readers. Disana ada sosok wanita heroik, aku tak sengaja (sedikit) menangis (huhu) saat membaca buku seri wanita mulia "Sayyidah khodijah" Judulnya. Aku tertegun saat sampai di part ini: (Sayyidah khodijah itu tak pernah memikirkan sedikit pun tentang apa-apa yang akan dia dapatkan atau yang akan dia terima dari nabi Muhammad, namun dia selalu sibuk memikirkan tentang apa-apa yang bisa dia lakukan dan bisa dia berikan untuk nabi Muhammad). Kata Hamka: "Jelas sekali bahwasanya rumah tangga yang aman damai ialah gabungan di antara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan".

Scene penutup yang tak lekang dari ingatan ku adalah Pidato Hamka saat Pelantikan ketua umum MUI Pertama: "Ulama tidak bisa dibeli. Karena maaf!!! ulama sudah dulu sekali terjual. Pembelinya adalah Allah SWT dan bayaran nya adalah surga"

Closing Quote:
"Dengan kita bertakwa, maka kita akan semakin dekat dengan Allah. Jiwa kita pun akan semakin kuat menerima tugas-tugas dari Allah untuk menjadi warosatul Anbiya"

Komentar

  1. Sungguh, takjub nian aku dengan bunda Siti Raham. :')
    (Ikut ngacung deh, krn jg suka baca karya Buya Hamka ☝🏽😊)

    BalasHapus

Posting Komentar