Halo Apa kabar Hati?



           Menarik untuk di perbincangkan mengingat hati menempati posisi penting dalam Islam. Sebabnya pergulatan yang dilakukan oleh seorang sufi adalah melulu tentang penyucian hati yang dilakukan melalui praktik-praktik ibadah dan mujahadah.
Manajeman Hati sulit ngakk? Wahh parah sulit banget wkwkwk

Lalu bagaimana dengan kita? Karena kita bukan sufi (maaf jika ada sufi yang sedang membaca hehe), tentu akan lebih condong dan asik jika membahas ‘hati’ di luar term sufi.  Semisal, hati yg hanya berhubungan dengan cinta seperti dalam drama korea. Namun jika kembali dimasukkan dalam term sufi lagi, di mana posisi entitas hati kita? Katakanlah hati orang-orang awam seperti saya.

Nabi Saw. juga mengajarkan kita bagaimana menggunakan hati untuk mengukur barometer kebajikan dan dosa. Simpelnya, kata Nabi Saw. saat Wabishah bin ma’bad ra. bertanya tentang kebajikan, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad )

Manusia dilahirkan kedunia dalam keadaan buta, tuli, serta tidak memiliki pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl, ayat 78

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari kandungan perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, setelah itu dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, serta hati akal pikiran, agar kamu mau bersyukur." (Surah An-Nahl, ayat 78)

Semasa di lahirkan manusia memiliki kemampuan mendengar lebih dahulu, baru penglihatan kemudia akal pikiran yang berfungsi. Sebaliknya menjelang kematian, akal pikiran yang mulai menghilang, baru penglihatan kemudian yang terakhir pendengaran.

Menurut ushul fiqih perkembangan akal pikiran atau hati ada beberapa tingkatan
1. Kamalul yakin
2. Haqqul yakin
3. Ainul yakin
4. Ilmul yakin
5. Ilmu
6. Dhan (Sangka-sangka)
7. Syaq (Ragu-Ragu)
8. Waham (Raba-raba)
9. Jahil basith
10. Jahil murokkab

Mulai dari No.5-1 menjadi medan tashauf haqiqi yang komponen nya bukan lagi penglihatan, pendengaran, dan akal pikiran semata.

al-Hakim al-Tirmidzi menerangkannya secara gamblang dalam kitab Bayan al-Farq baina al-sadr wa al-Qalb wa al-Fu’ad wa al-Lubb. sufi yang hidup pada abad ke-3 H/ 9 M ini  membahas ‘persoalan’ hati dan memetakan hati ke dalam tingkatan-tingkatan batin yang diistilahkannya sebagai “Maqamat al-Qalb”.
Bagi beliau, hati merupakan entitas yang memiliki tingkatan-tingkatan batin, yaitu dada (sadr), hati (qalb), hati kecil (fu’ad), dan hati nurani (lubb). Tingkatan2 ini saling menguatkan jika mau dianalogikan persis seperti lingkaran.

Lingkar pertama adalah dada (sadr). Di mana sadr merupakan tempat kelapangan dan kesempitan. Bagi al-Hakim, sadr terkait dengan cahaya Islam yang terlahir darinya ketakutan dan harapan untuk husnul khatimah.

Lingkaran kedua adalah hati (qalb). Menurut al-Hakim hati merupakan tempat terlahirnya keyakinan, ilmu, dan niat yang berada di dalam sadr. Karenanya ia menyebut qalb sebagai akar dan sadr sebagai ranting, di mana ranting akan menjadi kuat apabila akarnya kuat.
Akhirnya beliau menyimpulkan bahwa qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya iman yang di dalamnya terletak rasa khusyuk, takwa, cinta, rida, yakin, takut, harap, sabar, kecukupan, niat, dan lain sebagainya.

Lingkaran ketiga adalah hati kecil (fu’ad). Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa kedudukan seorang mukmin sesuai dengan kadar tingkatan ihsannya, dan ihsan terkait dengan penglihatan batinnya (HR.Muslim). Penglihatan tersebut, jelas al-Hakim, terletak di dalam fu’ad.
apabila fu’ad belum melihat, maka qalb tidak akan dapat melihat manfaat dari apa yang diketahuinya.

Lingkaran keempat adalah hati nurani (lubb). Lubb adalah sesuatu yang berada di dalam fu’ad. Ia ibarat retina mata, atau seperti cahaya lampu, atau seperti sari pati buah.

Al Hakim menjelaskan, lubb merupakan inti dari segala hati yang terkait dengannya cahaya tauhid, di mana cahaya-cahaya seperti Islam, iman, dan makrifat tidak sempurna kecuali dengannya.

Bisakah memprediksi di mana letak entitas ‘hati’ kita? Hehe. Mari bermuhasabah Semoga kita bisa menjadi jiwa-jiwa yang selalu memperbaiki kualitas ‘hati’ Dari hati yang rapuh menjadi nurani yang sembuh. Amin.

Keterangan Lengkap nya di;
"Betulkanlah Tauhid Anda, Drs Irhamfachruzie"
" Mengenal Entitas Hati dan Tingkatannya Menurut al-Hakim al-Tirmizi , Neneng maghfiro, Bincangsyariah.com"

Komentar

Posting Komentar