Hai Readers, sejujurnya Laman untuk topik ini tuh sudah ada sejak September 2020. Tapi aku baru mengisinya Hari ini, di tahun 2023. Ga Maen-maen (Setelah beberapa tahun kemudian) wkwk tolong di maafkan. Kendalanya apa ya? Sebenarnya hanya karena distraksi "Seperti mager" (Astaghfirullah). Saking lamanya Ndak Corat-coret di Blog, Diri ini lupa bagaimana masuk setting editing unggah naskah heu heu (keterlaluan).
_________________
Bismillah. Kita mulai dengan "Ketika Ayah dan Ibu memilihmu". Yang bukan anak tunggal tentu kita punya saudara ya~ baik 2 bersaudara, 3 bersaudara 4,5,6 atau lebih. Tapi bagaimana jika kamu seorang yg menjadi pilihan Ayah ibu untuk menunaikan kebutuhan nya? Di antara saudara-saudara mu yg lain? Bukan karena kita anak sulung, bukan karena anak bungsu, bukan karena anak yg paling di Sayang. Tapi karena "kamu orangnya". Percayalah teman, disana ada skenario indah Tuhan yg menyebabkan kita terpilih di antara saudara kita yg lain, maka jangan di sia-siakan. Permasalahannya adalah, tidak jarang realitas sosial mengatakan, Justru Ayah ibu tidak di rawat dengan baik, di anggapnya beban, di anggapnya menghabiskan banyak uang, boro-boro merawat, tidak berkata kasar dan marah-marah dalam keseharian nya sudah beruntung. Merawat itu apa? Merawat maknanya lebih dalam dari sekedar menjaga. Bukan hanya sekedar "Di beri makan, di beri uang" tapi di tanya "Ayah, ibu sehat? Kenapa kok sedih? Apa ada yg ingin di ceritakan? Sudah makan kah? Mau apa? Lagi kenapa? Mananya yg sakit? Tadi gimana? Besok mau kemana?" Dll. Bukan justru mendegus kesal, Saat ternyata beliau mulai pikun dan pendengaran juga penglihatan nya mulai memudar. Menjadi enggan menjawab pertanyaan berulang-ulang, malas duduk berlama-lama dengan Ortu seperti kegerahan seperti orang kesetanan. Dulu loh yang ngajarin kita ngomong siapa? Dulu kita juga hobi tuh tanya-tanya sesuatu yg udah di tanyakan di tanya lagi. Tetapi ortu tetap menjawabnya dengan baik, dengan tenang dan senang. Sesekali berujar "Duh Gemesnya Anak ku ini"
_________________________
Teringat dengan kisah yg di sampaikan ust Oemar Mita waktu itu di channel YouTube nya. "Ibu saya pernah bilang: Saya tidak tau bagaimana saya akan menjalani hidup tanpa bapak mu itu". Beliau juga menyampaikan betapa lurus dan heroik kisah cinta kedua orang tua nya, sampai-sampai Ibu beliau tidak tahu cara bagaimana akan menjalani keseharian tanpa Suaminya itu. QadaraAllah, Ibu ust Oemar wafat duluan. Lanjut~ saat itu ust Oemar Mita menyampaikan, kurang lebih seperti ini "Saya ingin punya arsip foto-foto khusus foto bapak, soalnya dulu saat ibu masih hidup, foto beliau sedikit di HP saya. Sehingga saat ibu meninggal dan saya rindu ingin melihat foto-foto nya, hanya saya temukan sedikit. Hari ini saya cukup sering fotoin bapak, kadang juga videoin keseharian nya".
________________________
Jleb bosss hehe, waktu itu hatiku langsung nyess, auto cek HP, dan ternyata benar Poto Ayah Mamak. cuma hitungan Jari. Lanjut~ beliau melanjutkan ceritanya. Al-kisah, ada seorang anak laki-laki dan seorang bapak. Si Bapak mendapatkan amanah besar untuk merawat ayah nya (Kakek dr si anak laki-laki). Suatu ketika si bapak memberikan makan Ayah dan minta tolong putranya untuk mengambil piring+segelas Air. Di ambillah pring dan segelas air itu oleh si anak tadi. Dalam keseharian Si anak tau betul bagaimana bapak nya memperlakukan kakeknya Itu. "Ayah ini Piring+Gelas yg Ayah minta"- kata si anak. "Loh jangan piring yg ini, takut pecah, kakek mu kan tua dan pikun takut piring nya jatuh, tolong ambilkan piring plastik yg ada di gudang saja". Mendengar perintah sang Ayah, anak tadi membongkar Gudang dan mencari piring yang di maksud. Setelah piring di berikan oleh si anak, sang kakek makan dengan Lahap. Setelah selesai makan sang anak membereskan piring dan bergegas hendak menyimpan nya. Lalu si ayah bertanya "kenapa masih di simpan? Di buang saja, stok di gudang masih banyak" kata si bapak. Kemudian anak menjawab "Iyakah ayah? Aku kira stoknya tidak ada lagi jadi yg ini mau ku simpan saja untuk aku gunakan kalo nanti ayah sudah Tua" Duaaaarrrr bak di sambar petir di siang bolong, si bapak langsung menggigil dengan kucuran keringat dingin. Kemudian dia menyadari bahwa apa-apa yang dia lakukan hari ini yg kepada ayahnya berpotensi di contoh oleh anaknya di masa depan. Berapa sih harga piring kok Sampek segitunya? Padahal masih takut jatuh dan pecah kan, bukan benar-benar pecah? Kenapa bukan piring baru? Kenapa Harus yg dari gudang? Bukan kah itu pertanda bahwa sebenarnya piring yg itu sudah tidak cukup layak untuk di gunakan. Terus kalo ga layak kenapa di kasihkan ke Orang tua Hah?
__________________
Teman, Seleksi alam dan Hukum alam itu ada. Durhakanya kita kepada orang tua pasti akan terbalaskan, baik terbalaskan di Dunia atau kelak di akhirat. Misal yg sekarang beberapa dari readers udah ada yg jadi ortu, terus anak kalian suka bentak-bentak, banting barang, banting pintu atau hal menyakitkan lainnya. Mari muhasabah "Barangkali kita dulu pernah gitu pas Jadi anak". Atau nih yg sekarang masih jadi anak, terus cenderung dikit-dikit pengen marah ke ortu, dikit-dikit pengen banting pintu dll marilah jangann berprasangka buruk "Jangan-jangan ortuku dulu gitu ya ke Kakek/Nenek makanya punya anak kek aku" WKWK Ndak ke arah sana ya. Tapi ayo lebih ke arah ini: "Sebaiknya aku ga boleh Gini lagi nih, takut anak ku kelak juga gini ke aku" Nah ini baru Bagosssssss
Menikah dan bertemu dengan orang baru, memiliki keluarga baru sendiri. Seharusnya menjadi ajang dan jalan untuk semakin taat nya kita kepada orang tua. Bukan ajang semakin asing dan menjauh
_________________
Siang tadi kakek pengen makan, QadaraAllah beliau sedang sakit jadi Ndak boleh makan sembarang, cuma boleh makan Tahu tempe sama Nasi. Karena tadi Stok tahu tempe Habis, jadi beliau belum makan nih. Jadilah aku masak nasi goreng buat kakek (Jangan di tanya Gimana rasanya, kek nya Ndak begitu enak WKWK). Cuma tuh tadi nyambi kerjaan lain, jadi masak nasgor nya ingin fokus tanpa ada distraksi. Tapi kakek terus aja ngajak ngobrol tanya ini itu. Niat hati mau diam aja Ndak jawab, khawatir kalo jawab malah singkat-singkat modelan orang cuek dan keliatan ga menghargai gitu (Haha). Tapi keburu inget, Astaghfirullah ya aku kalo ngobrol sama besti-besti ku bisa ber jam-jam kok ya ngomong sama kakek males malesan gini. Sadar diri nih, akhirnya lebih Responsif. Ya gitu Manusia, logika, Hati nya suka bolak balik dan Khilaf. Dari sini aku jadi paham tenyata "Bukan hanya Politik yg butuh siasat, Hati justru lebih butuh di siasati"
______________________
Teman, akan kita dapati sebuah masa, "Kita lupa semakin kita dewasa umur ayah ibu semakin menua". Hari itu, kami duduk bersama di pelataran rumah. Ayah biasa berbagi cerita, aku hanya mendengarkan saja. Pesan ayah gini "Kalo ada ingin, pasti ada jalan. Apa-apa yang jadi keinginan kamu maka itu adalah keinginan Ayah. Jadi harus punya keinginan yang banyak, biar hidup ayah juga berwarna" kalo Ayah udah memberi petuah bawaannya ingin terus semangat. Ya seperti ini modelan ayah, agak agak filosofis, dan aku suka itu haha. Beda dengan ibu yang duduk di samping nya. Oh ya Ibu ku ini anak perempuan satu satunya dari 5 bersaudara. Tapi behhh kalo mamak udah bilang A mesti prinsip nya ini Ga goyah. Ga oleng sedikit pun. Ga suka Meleyot seperti aku Heu Heu. Teman, aku bersyukur memiliki keduanya. Aku merasa keduanya adalah Best Couple terlepas dari lika-liku dan luka luka kehidupan~Ortu bukan tergolong orang yg berpendidikan formal. Ayah lulusan SD mamak Ndak sekolah.Tapi bukan ini yg ingin di sampaikan, tapi tentang semangat keduanya yg terus di tularkan~ Lanjut. Ku bolak balik tangan ayah yg saat itu ada di genggaman. (Ah sedih, hancur rasanya hatiku, tetiba sesak) Hehe. Kasar banget tangan Ayah Euyyy itu tuh kek modelan tangan Batu. Ada luka-luka bertebaran ada yg di Jari jempol ada yg di jari kelingking nya, terus beberapa goresan-goresan. Auto ngebatin "Gimana ya Ayah kerja, kok sampe Segininya banget". Setelah itu, lirik dikit ke mamak "Dulu sangat cantik, Hari ini pun tetap Cantik, dan seperti nya bagi anak anaknya dia adalah wanita tercantik" tapi ada yg berbeda, kerutan-kerutan itu sudah mulai ada. "Deg" Hatiku nyess setelah sadar ternyata mamak sudah menua, yaaaa beliau berdua Menua.
[PERBEDAAN KITA DENGAN IBU]
_____________________________________________
Ini menampar, namun perlu aku sampaikan
Tentang Perbendaan Yang membedakan
"Antara ibu dengan Kita"
_
Ibu merawat kita untuk melihat kita tumbuh besar, hari hari dipenuhi kebahagiaan. Sementara kita merawat ibu sambil menunggu untuk kematian nya.
[Kira kira begitu]
Uwu. . Stay tune ya Readers d Next Postingan. . Sangat menerima masukan "Saran Tema" dll Sampaikan di Kolom Komentar, Oh iya klo lg gabut Akses Link Blog ada di IG ku @deniyatri

Apa yang disampaikan dengan hati akan di terima dengan hati pula. 🤍
BalasHapusHuhuhu🌻
Hapus