Source: Google Images
"BUDI PEKERTI" Oleh Raphael Wregas Bhanuteja.
"Saya tidak ingin didahulukan, saya hanya ingin tidak ada yg menyerobot antrean dan ada keadilan" Kurang-lebih berikut yg disampaikan oleh Ibu Prani. Narasi lantang nan berkarakter, tak hengkang dari ingatan, semacam mengetuk ngetuk kami yang punya kebiasaan menyerobot, dan menganggap itu adalah hal kecil dan wajar. Faktanya, ada hak orang lain yang di rampas. Penyampaian itu adalah kalimat "Hallo effect" Yg cukup menghipnotis mata untuk tahan menonton sampai dengan selesai. Apa itu "Hallo effect?" (Dahlah coba searching haha)
Kemudian, fenomena "ada kejadian, ada klarifikasi" tepat saat 1 kata di salah pahami "Ahh sue menjadi Asuu". Sempat tercengang dan membatin "Hah padahal cuma 1 kata bisa se rusuh ini". Betapa powerfull nya setiap kata yang keluar dari lisan. Maka tak salah bila dalam hadis disebut " Fal Yuqil Khoiron, au liyasmut" (Maka katakan yang baik, atau diam saja)
Saat di kondisi-kondisi terjepit, kami condong memilih jalan pintas untuk berbohong. Padahal berbohong memiliki "Domino Efek? Taukan domino efek gimn? (Kalo pernah main domino pasti tau). Yup, Satu peristiwa yang menghasilkan serangkaian peristiwa lain adalah domino efek. Sekali berbohong akan ada celah jalan untuk kebohongan lain mengikuti nya. Kala itu Muklas berbohong " Bahwa ibu Prani bukan ibunya" (Parah sih ini) beberapa menit kemudian "Muklas mengakui ibu Prani sebagai ibu kecintaannya". Mari bayangkan latar suasana berkecamuk nya hati ibu Prani dengan tekanan sana sini dan di tambah ulah anak sendiri (Si pemuda ceroboh)
Hal-hal baik yang diperbuat akan kembali pada diri kita nanti. Jasa ibu Prani sebagai guru yang tidak hanya mengajar namun mendidik tak lekang dari ingatan jajaran alumni. Hukuman jauh berbeda dengan Refleksi. Dalam Refleksi ada metode pembelajaran 21 Century (Pembelajaran abad 21) yang melibatkan kegiatan-kegiatan PJBl/Project based learning. Jelas memberikan dampak positif pada siswa
Mari lanjut terkait potret pendidikan. Saat itu Tita Putri sulung ibu Prani, mengatakan kurang lebih begini "Seharusnya Pelajaran Budi Pekerti masih ada di sekolah-sekolah" Kemudian (Ku searching deh, karena aku sebagai anak 2000 an merasa asing dengan MAPEL ini), berikut hasilnya berdasarkan Wikipedia, "Budi pekerti" adalah sebuah mata pelajaran yang pernah ada dalam pendidikan di Indonesia. Mata pelajaran tersebut mengajarkan tentang pembelajaran moral di sekolah-sekolah. Mata pelajaran tersebut mulai muncul pada akhir 1960an pada masa Orde Baru dengan berlakunya Kurikulum 1968 hingga pertengahan tahun 1980an saat mata pelajaran tersebut digantikan oleh mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan mata pelajaran agama resmi masing-masing pelajar (Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan kemudian juga Konghucu). (Terkait sejarah/kenapa MAPEL ini di hapus dll. Yodahlah ya searching sendiri. wkwk)
Kemudian, sosok Ayah+Suami (Pak Didit) sangat nampak heroik saat mencemplokkan telor (Memasak untuk keluarga), bertanggung jawab, Ego nya tak setinggi langit. Semacam sengaja dimunculkan bahwa marwah Ayah/Suami tak akan jatuh hanya karena membantu ato melakukan pekerjaan-pekerjaan Domestik. (auto Duh gantengnya pak Didit). Silahkan definisikan ganteng menurut kalian
Last but not least, berkaitan dengan maraknya isu kesehatan mental. "Suicides/Suicides thought bukan lah solusi". Selain dari kenikmatan menjalankan aktivitas spiritual banyak kegiatan positif yg bisa dilakukan untuk melepaskan emosi (Jangan di pendam, jangan di tahan). Kita bisa baca Buku, Jalan-Jalan atau lainnya. Dari tokoh Gora yang suka meditasi dan Ibu Prani yang suka olahraga kita bisa belajar kurang lebih seperti ini COBA RELAX "Jika dunia tersa ramai, rusuh dan melelahkan, pejamkan mata mu, kemudian dengarkan detak jantung mu". Self-love, Self-rewards, Be grateful and mindfulness
Anyway, Jadi pengen banget baca Buku "Lembaga Budi" nya Prof. Hamka

Komentar
Posting Komentar